Frank dan Bob saling diam meski mereka duduk berdampingan. Bas pergi entah ke mana. Hanya Frank, Bob, dan pohon kecil di antara mereka. Pohon kecil diperankan oleh Bas. Ia hanya memegang ranting–ranting yang berdaun.
Frank : Demonstrasi menuntut Reformasi telah berlalu. Persiden demi persiden berganti, partai bertambah banyak. Kami sebenarnya tak begitu peduli dengan itu semua. Sebab bagi kami, hidup hanyalah ketidaksengajaan. Dan kami sudah malas bicara politik.
Sudah beberapa bulan ini, Bas tak pernah lagi kelihatan. Bas menghilang entah ke mana. Aku dan Bob merasa sangat kehilangan. Hanya percakapan tak tentu arah yang dapat menghibur kami berdua.
Bob mencoba memulai pembicaraan.
Bob : Bagaimana kisah cintamu, Frank?
Frank : Diam! It’s not your business!
Bob : Kamu marah Frank?
Frank : Diam! It’s not your business.
Bob : Why Frank? Why do you look so sad? Tell me, please.
Frank : Diam! It’s not your business, Bob!
Bob : Oh, no, Frank, no. Apalah artinya sahabat, jika susah dan senang hanya ditanggung sendiri?
Frank : Aku tahu Bob, tapi kamu sahabat yang tak pernah mengerti aku.
Bob : Shit! Why Frank? Why?
Frank : Aku belum pernah punya kisah cinta Bob. Kecuali cinta anak kepadanya ibunya.
Bob : Oh, Holy Moly …! Soo sad. Malang sekali nasibmu, Frank.
Mereka terdiam agak lama. Lalu Bob menangis. Frank makin lama merasa simpati.
Frank : Mengapa kamu menangis, Bob? Kamu menangisi nasibku?
Bob : Tidak, Frank.
Frank : Why, Bob? Why?
Bob : Aku juga tak punya kisah cinta Frank, selain cinta cucu kepada neneknya.
Frank : Oh, Holy Moly …! You also sad, Bob. Nasibmu lebih malang, Bob!
Bob : Why Frank? Why?
Frank : Setidaknya aku mencintai perempuan yang lebih muda dari nenekmu, Bob.
Mereka terdiam dengan mata berkaca-kaca.
Bob : Cinta terlalu rumit untuk menjadi definisi.
Frank : Sudahlah, andaikan saja pohon kecil ini bisa bicara. Tentu ia akan menjelaskan pada kita apa itu cinta.
Bob dan Frank tersenyum lalu menangis bersama.
Frank : Aku rindu dengan puisi – puisi Bas.
Bob : Sebenarnya aku tak suka puisi, Frank.
Frank : Kau tak punya perasaan, Bob.
Bob : Aku punya, aku jua ingin jatuh cinta. Tapi aku bukan seorang teoritikus.
Frank : Maksudmu?
Bob : Bagiku puisi hanyalah teori. Aku ingin praktek, Frank.
Frank : Oh, Bob, maafkan aku. Tapi aku rindu dengan puisi Bas.
Bob : Baik mari kita cari Bas.
Bob dan Frank pergi mencari Bas, dengan memanggil–manggil namanya.
Bob : Bas …
Frank : Bas …
Bob : Kau di mana, Bas?
Frank : Kau di mana, Bas?
Bob : Bas …
Frank : Bas …
Bas : Aku di sini!
Frank : Hah, itu suara Bas, kan?
Bob : Iya, itu suara Bas yang sama sekali tidak nge-bass.
Frank : Baiklah. Bas, kamu di mana? Datanglah, kami menunggumu.
Bob : Kemarilah, Bas. Kita bersenda gurau lagi seperti dahulu …
Bas : Baiklah, aku akan memperlihatkan diriku.
Frank : Kami kan menantikanmu.
Bas muncul tiba–tiba. Pohon kecil berubah menjadi Bas. Bas melempar tangkai pohon yang dari tadi dipegangnya.
Bas : Aku di sini.
Bob dan Frank : Oh, Holy Moly …! Bas! Kami merindukanmu, Bas.
Frank : Dari mana saja kamu, Bas? Kau biarkan kami kesepian, Bas.
Bas : Maafkan aku, berbulan – bulan aku pergi mencari seorang pelacur.
Bob : Ada apa denganmu dan pelacur itu, Bas?
Bas : Aku benar – benar terpesona dengannya. Ia satu satunya pelacur yang dengan indah membacakan puisi – puisiku. Tak ada yang seperti dia. Semua perempuan membenciku kecuali dia. Aku tak menyangka. (Jeda) Namanya Kanah, gadis desa asal Gombong. Ia menjadi pelacur lantaran dijual ibunya untuk melunasi hutang keluarga. Kuputuskan untuk mengejarnya. Aku benar – benar terobsesi. (Jeda) Lalu aku menemukannya di sebuah kamar kecil dalam keadaan hamil. Tentu saja bukan aku yang menghamilinya. Berbulan bulan aku merawatnya. Dan kami hidup bersama hingga ia melahirkan seorang bayi mungil. Kami sempat bahagia. (Jeda) Lalu ia pergi lagi meninggalkanku.
Frank : Apa yang akan kita lakukan sekarang, Bas?
Bob : Sebaiknya kita diam dan menganggur saja. Itu akan sangat lucu.
Frank : Kita sudah melakukannya setiap hari, Bob.
Bas : dengarlah, kesetiaan mengalir di udara pagi
ia menulis sejarah untuk kita, lalu
membuat arah ke tempat yang ingin kita kunjungi
di sana ada langit bergambar rumah kecil di atas bukit
dan kita akan menjadi harapan berwarna hijau daun.
Frank : Apakah masih ada harapan untuk kita, Bas?
Bob : Aku yakin masih ada. Sebab aku masih ingin jatuh cinta.
Bas : Bagaimana dengan Sri, Bob?
Frank : Hihihi …
Bob : Sri sahabatku, ia yang mengajariku cara menjahit. Jadi tak mungkin kami jatuh cinta.
Frank : What?! Lalu apa hubungannya cinta dan menjahit, Bob?
Bob : Kau tak kan paham sejarah perasaanku, Frank.
Frank : Wow …
Bas : Ssstt …. Kalian lihat ada seorang gadis berjalan ke arah kita?
Bas menunjuk pada suatu arah. Bob dan Frank mengikuti arah jari Bas.
Frank : Mana, Bas?
Bas : Ternyata ada dua gadis.
Bob : O, ya?
Frank : Manis dan cantik.
Bas : Kelak mereka akan menjadi jodoh kalian.
Frank : Dari mana kau tahu, Bas?
Bas : Apa kau bilang Frank?
Frank : Oh, tidak papa, Bas.
Bas melihat Frank, kemudian Frank tertunduk
Frank : Ok, Bas, maaf aku lupa, kamu pernah hidup di masa depan.
Bob : Bagaimana caranya berkenalan, Bas?
Bas : Diam. Biasa saja, sebut nama, pandangi matanya, lalu tersenyum.
Bob dan Frank : Baik, Bas.
Bas : Jangan tegang. Tiga detik lagi mereka sampai.
Satu, dua, tiga. (Bas seolah melihat gadis lewat di depannya) Hai Gadis, mau ke mana? Kok jalan kaki, sih? Nanti kakinya gede, lho. (Jeda) Disapa kok diem aja. (Bas bergerak menunjuk sesuatu) Eh, maaf, saputangannya jatuh tu. (Bertiga melihat salah satu gadis mengambil saputangannya, lalu tersenyum) Oh, iya, sama – sama. Makasih. Lain kali ati – ati, ya. Jangan sampai harga dirinya yang jatuh.
Semua berdiam diri
Frank : Bas, mengapa kamu garing sekali?
Bob : Iya, garing. Nggak lucuk.
Bas : Diam. Sebentar lagi mereka berdua akan datang lagi.
Frank : Harapan telah berlalu.
Bob : Aku tak mungkin punya anak cucu.
Frank : Huft!
Bas : Tuh lihatlah mereka datang lagi. Persiapkan diri kalian.
Bob dan frank merapikan penampilan.
Bas : (Kepada dua gadis) Lho, ada apa kok datang lagi? Apa? Oh, mau cari warung makan? Di sebelah sana dekat perempatan ada, kok. Hhmm… nggak tau, ya? Tenang, kedua teman saya bisa nganter, lho. Lagian hari juga udah rembang petang agak bahaya banyak premannya. O, iya, kenalin dua temanku. (Menepuk pundak Bob dan Frank). Ayo, dah siap kenalan kan.
Frank : (Kepada seorang gadis) Namaku Frank, panggil saja Mas Franky. Emm … siapa? Sawitri? Oh, Hartini? Ok, ok.
Bob : (Kepada seorang gadis) Namaku Bob. Panggil aku Bob saja. Bob, nice too meet you. Eh, siapa tadi namanya? (Jeda) O, iya, Ambar. Kan kuingat sepanjang hidupku.
Lalu gantian Frank tersenyum menyalami Ambar. Bob juga tersenyum menyalami Hartini.
Bas : Nah, udah pada kenal kan sekarang. O, iya, namaku Bas. Lengkapnya Turbasi, panggil aku Mas Turbasi. Itu akan lebih friendly dan menyehatkan. (kepada Bob dan Frank) Bob, Frank silakan antar Hartini dan Sawitri makan.
Bob dan Frank : Baik Bas.
Bob dan Frank menghadap ke samping kanan dan kiri memunggungi Bas. Mereka diam seperti patung dengan gestur tubuh hendak berjalan. Wajah menghadap penonton tersenyum bahagia.
Bas : Akhirnya mereka saling jatuh cinta. Bob jatuh hati dengan Susana Ambarwati. Frank pacaran dengan Hartini Nainggolan. Mereka berkasih – kasihan satu sama lain. Hari – hari mereka sungguh indah sekali. Jika siang hari mereka pacaran, kupu – kupu beterbangan riang mengitari mereka. Jika malam hari mereka pacaran, kerlip bintang – bintang berguguran satu persatu secara slowmotion. Aku cukup senang jika Bob dan Frank bahagia dalam hidupnya. Tapi jangan tanyakan tentang hari-hariku dan kisah cintaku. Itu akan membuatku menangis. (Jeda) Seorang penyair yang kulupa namanya bilang: Kesedihan hanyalah sebatas air mata, tapi kenangan? Ya, kenangan itu kadang datang seperti hukuman. Ia adalah benang merah antara yang hidup dan yang mati. Antara yang di sini dan yang jauh di sana. Oh, tidak, aku tak sanggup lagi meneruskan kata-kataku sendiri. Sudahlah, sudah cukup atas semua kenangan itu. Semuanya musti bergerak. Semuanya musti berjalan.
Perubahan demi perubahan telah terjadi dengan begitu cepatnya. Tahun berganti tahun …