Judul : Politik Pengetahuan
Penulis : Edwar Said
Penerjemah : Saut Pasaribu
Penerbit : Circa
Cetak : Maret 2021
Tebal : 228 halaman
ISBN : 978-623-7624-42-4
Pada akhir abad 19 di Inggris muncul istilah “imperialisme” oleh seorang politikus & penulis Yahudi Inggris, Benjamin Disraeli. Meskipun praktiknya sudah terjadi sejak pertengahan abad 15 yang ditandai pelayaran Bartolomeu Dias (1486-1488) dan Vasco da Gama dari Portugis (1497-1499) serta pelayaran Christopher Columbus (1492–1504) dan Ferdinand Magellan (1519- 1522) dari Spanyol. Yang membedakan keduanya hanyalah waktu, imprialisme sebelum revolusi industri disebut imperialisme modern, sedangkan yang menjadi penanda era baru imperialisme modern yang sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan kebutuhan industri pasca-revolusi industri.
Imperialisme berangkat dari ide Gold, Glory, Gospel—keinginan akan kekayaan, kejayaan, dan penyebaran agama—akhirnya tiba pada sebuah studi akademis tentang negara dan kebudayaan Timur yang dilakukan oleh bangsa Barat, yang mencakup studi mengenai berbagai aspek budaya Timur, seperti agama, bahasa, sejarah, seni, kesusastraan, dan permasalahan sosial-kultural masyarakat Timur, yang mana kita menyebutnya Orientalisme. Imperialisme seringkali mengandung sudut pandang subjektif, stereotip, dan bias yang mencerminkan relasi kuasa kolonial, sehingga tidak selalu netral dan objektif dalam penggambarannya terhadap Timur, hingga kemudian muncullah kritik penting terhadap studi ini, yang mengungkap bagaimana Orientalisme sering kali menghasilkan representasi sepihak dan menguntungkan kepentingan kolonial, kritik tersebut dicetuskan oleh seorang kritikus sastra ternama, Edward Wadie Said.
Buku Politik Pengetahuan (Circa, 2021) berisi tujuh esai karya Edward Said yang diambil dari salah satu karyanya yang lain, Reflection on Exile: And Other Literary and Cultural Essays, yangmemuat 46 esai yang membahas konsep eksil (keterasingan/pengasingan) sebagai kondisi eksistensial modern dan politik, serta analisis tentang identitas, memori, sejarah, dan resistensi melalui seni dan sastra. Buku setebal hampir 700 halaman tersebut juga menyentuh isu konflik Israel-Palestina, mempertanyakan narasi dominan dan mendukung aktivisme untuk keadilan bagi kelompok yang terpinggirkan.
Ketujuh esai dalam buku Politik Pengetahuan diantaranya, (1) Politik Pengetahuan, (2) Idenitas, Otoritas, dan Kebebasan: Sang Penguasa dan Sang Pelancong, (3) Sejarah, Sastra, dan Geografi, (4) Peran Fantasi dalam Pembentukan Bangsa-Bangsa, (5) Tentang Alasan-Alasan yang Hilang, (6) Di Antara Dunia-Dunia, (7) Benturan Definisi-Definisi. Kesemuanya saling terkait satu sama lain—entah ujung atau pangkalnya—membentuk satu pandangan besar yang cukup sulit untuk ditolak.
Esai pertama, Politik Pengetahuan, Said memaparkan pengalamannya menghadiri undangan seminar di sebuah pusat kajian sejarah mengenai imperialisme, yang mana pada masa-masa itu ia tengah mengerjakan salah satu bukunya—yang kelak menjadi sebuah buku paling terkenal dan menempatkan namanya sebagai seorang pemikir berpengaruh yang membahas hubungan antara kebudayaan modern dan imperialisme—berjudul Orientalisme. Said mengemukakan bahwa inti dari budaya imperialisme adalah politik identitas. Politik perlu berasumsi bahwa apa yang sebenar-benarnya tentang orang Timur atau Afrika, namun tidak demikian untuk orang Eropa. Sejak akhir abad ke-18, sangat tampak dan menonjol interaksi di antara identitas Prancis atau Inggris dengan identitas penduduk asli (pribumi) yang terjajah. Interaksi ini memunculkan pemisahan di antara orang-orang ras tertentu yang homogen dengan bangsa-bangsa eksklusif, hal itu merupakan salah satu ciri dari apa yang disebut espistimologi imperialisme.
Said melanjutkan lagi, inti dari epistimologi imperialisme adalah tesis bahwa setiap orang pada prinsipnya adalah anggota dari suatu ras atau kategori yang tidak pernah dapat dibaurkan atau diterima oleh yang lain—selain dirinya sendiri. Sehingga memunculkan esensi-esensi yang dianggap abadi berupa konsep ras, bangsa, dan karakterisasi kebudayaan yang mengunggulkan pihak penjajah dan merendahkan pihak yang dijajah. Said juga menunjukkan produk dari doktrin semacam itu (politik identitas) adalah nasionalisme, seperti kebanyakan terjadi di negara-negara Dunia Ketiga, yang secara sadar berstrategi untuk melakukan dekolonisasi dalam upaya pemberontakan anti-imperialisme. Contoh paling terkenal yang dikemukakan Said adalah konsep négritude. Négritude adalah gerakan sastra dan intelektual pada tahun 1930-an yang dipelopori oleh para intelektual dan penyair Afrika dan Karibia berbahasa Prancis, termasuk Aimé Césaire, Léon Damas, dan Léopold Sédar Senghor. Gerakan ini lahir sebagai reaksi terhadap kolonialisme dan untuk menentang gagasan bahwa budaya Afrika tidak beradab, dengan tujuan merayakan dan merebut kembali identitas budaya Afrika, memupuk kebanggaan kulit hitam, dan menegaskan nilai-nilai budaya Afrika.
Said menunjukkan manfaat dan akibat yang pernah dimiliki politik identitas nasional dalam perjuangan bangsa-bangsa terjajah untuk melepaskan diri dari kekuatan-kekuatan kolonialis, baik dalam ruang-ruang intelektual (subaltern, feminisme, dan pascakolonial) dan dalam berbagai contoh karya sastra yang menentang eurosentrisme. Ia menegaskan bahwa perlu untuk mengubah pola interaksi anatagonistis antarbangsa dengan menginggalkan politik identitas menuju kerja sama antarbangsa, antarkebudayaan demi mencapai apa yang disebut—meminjam istilah Aimé Césaire—“pertemuan kemenangan,” untuk semua pihak.
Dalam esai kedua, Identitas, Otoritas, dan Kebebasan: Sang Penguasa dan Sang Pelancong, membahas tentang dua jenis gerakan yang berlawanan: “penguasa” yang terikat pada tanah dan kekuasaan, serta “pelancong” yang bebas bergerak melintasi wilayah dan budaya dengan memahami keragaman. Said berpendapat bahwa kebebasan sejati terletak pada kemampuan pelancong untuk melepaskan diri dari otoritas dogmatis dan dogma, serta untuk terlibat dalam pencarian pengetahuan yang tak henti-hentinya dan pemahaman yang lebih luas tentang dunia. Gagasannya adalah bahwa akademi membentuk pikiran kaum muda, mempersiapkan mereka untuk kehidupan, sama seperti—melihat segala sesuatu dari sudut pandang guru—mengajar berarti terlibat dalam panggilan atau panggilan yang terutama berkaitan bukan dengan keuntungan finansial tetapi dengan pencarian kebenaran yang tak berujung.
Said menekankan bahwa kebebasan sejati bukanlah tentang kekuasaan atau kepemilikan, tetapi tentang kemampuan untuk bergerak, memahami, dan melepaskan diri dari dogma. Pelancong, dengan kemampuannya untuk menerima dan memahami keragaman dunia, adalah model yang paling mendekati kebebasan akademis karena ia memiliki hal-hal lain untuk dipikirkan dan dinikmati selain dirinya sendiri.
Kemudian esai ketiga, Sejarah, Sastra, dan Geografi, Said menunjukkan hubungan antar sejarah, sastra, dan geografi, ia berpendapat bahwa pengetahuan tentang geografi dan sejarah suatu tempat tidak dapat dipisahkan dari sastra yang mengisahkan tempat tersebut, karena kedua hal tersebut membentuk bagaimana sebuah wilayah dipandang oleh dunia luar. Said menekankan bahwa sastra seringkali membangun citra dan stereotip tentang suatu tempat melalui narasi yang bias, yang kemudian dipandang sebagai kebenaran dan memengaruhi pemahaman tentang “geografi” dan “sejarah” tempat tersebut. Berkaitan dengan hal itu dia membahas ide-ide para teoritikus sastra besar antara lain Auerbach, George Lucas, Antonio Gramsci, Reymond William, dan beberapa nama lainnya.
Said berpendapat bahwa karya sastra dan penulisan geografis seringkali tidak hanya menggambarkan, tetapi juga secara aktif membentuk pemahaman kolektif tentang suatu tempat dan masyarakatnya. Sastra seringkali menyajikan penggambaran yang terlalu sederhana dan stereotipikal tentang budaya dan masyarakat di luar Barat, terutama di Timur. Said menunjukkan bagaimana sastra, yang merepresentasikan geografi dan sejarah suatu wilayah, seringkali menjadi dasar bagi kekuatan politik dan imperialisme. Representasi sastra ini kemudian digunakan untuk melegitimasi kekuasaan dan pengaruh kolonial, dengan menciptakan “Orientalisme” sebagai cara pandang yang stereotipikal terhadap Timur.
Said menawarkan perspektif orang luar untuk merekonsiliasi sejarah dan sastra dalam dunia pasca-Eurosentrik. Dia melakukan ini untuk menghindari penguasaan karya-karya sastra arus utama dan karya-karya bangsa sendiri sementara meminggirkan karya-karya bangsa lain dan sastra marjinal. Dengan demikian, dia menawarkan perspektif orang luar agar kita dapat menilai karya sastra dengan lebih terbuka. Secara singkat, esai ini adalah bagian dari kritik Said yang lebih luas terhadap cara pengetahuan Barat dibangun dan disebarkan, khususnya bagaimana narasi sastra membentuk pemahaman tentang wilayah lain, yang sangat dipengaruhi oleh kepentingan kolonialisme.
Esai keempat, Peran Fantasi dalam Pembentukan Bangsa-Bangsa, adalah sebuah kritik sastra yang apresiatif terhadap karya terbaru Jacques Rose, yang mengulas hubungan kompleks antara Negara dan ide-ide fantasi. Dalam esai ini Said membahas buku karya Jacqueline Rose yang mengupas peran fantasi dalam proses pembentukan negara dan identitas nasional. Rose mengkritik pendekatan sastra modern yang terlalu terjebak dalam jargon akademis dan ideologi yang kaku, seraya menawarkan pendekatan baru yang menggabungkan analisis psikoanalitik dengan kajian politik dan sejarah. Ia menegaskan bahwa fantasi bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan kekuatan yang mendasar dalam membangun identitas kolektif dan negara modern. Rose menggunakan contoh-contoh karya sastra dari Inggris, Israel, dan Afrika Selatan untuk menunjukkan bagaimana fantasi berperan dalam narasi nasional, konflik politik, dan pencarian keadilan. Ia juga menyoroti dilema kompleks terkait identitas, kekuasaan, dan trauma sejarah yang diwariskan lintas generasi, khususnya dalam konteks Israel-Palestina dan perjuangan rasial di Afrika Selatan. Said mengatakan bahwa pendekatan Rose yang menggabungkan literatur, psikoanalisis, dan sejarah ini membuka wacana baru yang lebih manusiawi dan menyeluruh tentang bagaimana bangsa-bangsa dibentuk dan mempertahankan eksistensinya.
Edward Said adalah bagian dari bangsa Palestina yang tergusur, ia berusaha menjaga api harapan akan keberhasilan bangsanya kelak meraih cita-cita mereka untuk kembali menjadi bangsa yang merdeka dan mempunyai wilayah yang berdaulat, itu termuat dalam esai kelima, Tentang Alasan-Alasan yang Hilang. Said menyajikan analisis mendalam mengenai konsep “penyebab yang hilang,” yang merujuk pada keyakinan atau tujuan yang dianggap tidak mungkin tercapai oleh masyarakat. Said memulai dengan menjelaskan bahwa persepsi terhadap suatu penyebab sering kali dipengaruhi oleh konteks waktu, situasi sosial, dan pandangan individu. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dianggap sebagai penyebab yang hilang dapat berubah seiring dengan dinamika sosial dan politik.
Salah satu poin menarik yang diangkat adalah peran narasi dalam membentuk pandangan masyarakat terhadap penyebab tertentu. Said menekankan bahwa narasi yang kuat dapat mengubah persepsi publik dan memberikan harapan baru, meskipun situasi tampak suram. Ini menggarisbawahi pentingnya komunikasi dan storytelling dalam memperjuangkan suatu penyebab, serta bagaimana narasi dapat menjadi alat untuk menggerakkan dukungan.
Contoh pengalaman pribadi Said terkait isu Palestina memberikan dimensi emosional dan konkret pada argumen yang disampaikan. Said menggambarkan bagaimana harapan dan strategi dalam perjuangan Palestina telah berubah setelah perjanjian Oslo, mencerminkan realitas bahwa penyebab yang hilang tidak selalu statis. Melalui pengalaman tersebut, Said melakukan perenungan mendalam bagaimana harapan dapat muncul kembali meskipun dalam situasi yang tampaknya tanpa harapan.
Di Antara Dunia-Dunia, esai keenam, adalah permenungan Said dalam memahami identitas dan pengalaman sebagai seorang Palestina yang terasing di Amerika. Said coba menggambarkan bagaimana karya-karya Joseph Conrad, meskipun ditulis dalam bahasa Inggris, mencerminkan tema kehilangan dan ketidakpastian yang sejalan dengan pengalaman pribadinya. Melalui lensa Conrad, Said mengeksplorasi bagaimana ia dapat menciptakan realitas yang mencerminkan kondisi sosial dan politik yang kompleks.
Said juga merenungkan perjalanan hidupnya sendiri, di mana ia berusaha menyeimbangkan identitas ganda antara budaya Arab dan Barat. Dalam proses ini, ia menyadari pentingnya menulis sebagai sarana untuk mengatasi kehilangan dan mencari makna dalam hidupnya yang terfragmentasi. Said menyoroti tantangan yang dihadapi oleh individu yang terasing, serta bagaimana “menulis” dapat menjadi alat untuk mengekspresikan pengalaman yang sering kali terabaikan dalam narasi bersifat umum.
Secara keseluruhan, Said tidak hanya menawarkan wawasan tentang pengalaman pribadinya, tetapi juga mengajak kita untuk merenungkan bagaimana identitas dan representasi dibentuk dalam konteks politik dan sosial yang lebih luas. Dengan menggabungkan refleksi pribadi dan analisis kritis, Said begitu dominan menciptakan narasi yang mendalam dan menggugah pemikiran tentang hubungan antara penulis, bahasa, dan identitas.
Esai terakhir, Benturan Definisi-Definisi, Edward Said menawarkan analisis kritis terhadap argumen Samuel P. Huntington, yang kelak menjadi sebuah buku yang sangat terkenal, The Clash of Civilizations. Said menyoroti bahwa pandangan Huntington tentang konflik global yang berakar pada perbedaan budaya dan peradaban sering kali menyederhanakan kompleksitas interaksi antarbudaya. Dengan menekankan bahwa definisi peradaban bersifat dinamis dan selalu diperdebatkan, Said justru mempertimbangkan nuansa dan keragaman yang ada dalam setiap budaya, terutama dalam konteks Islam yang sering kali dipandang secara reduktif.
Said juga mengkritik penggunaan bahasa emosional dan figuratif oleh Huntington, yang menciptakan jarak antara “dunia kita” dan “dunia mereka.” Ia berargumen bahwa pendekatan ini tidak hanya memperkuat narasi konflik, tetapi juga mengabaikan potensi kerjasama dan saling pengertian antarbudaya. Dengan demikian, Said mendorong untuk melihat lebih jauh dari sekadar pertikaian, dan untuk memahami bahwa budaya saling mempengaruhi dan berinteraksi dalam cara yang lebih kompleks.
Secara keseluruhan, esai Benturan Definisi-Definisi merupakan sebuah kritik yang tajam terhadap pandangan yang terlalu menyederhanakan tentang peradaban dan konflik. Said menekankan pentingnya dialog dan pemahaman yang lebih dalam tentang budaya lain, serta mengajak kita untuk mempertimbangkan bagaimana definisi peradaban dapat berubah seiring waktu dan konteks. Teks ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia yang semakin terhubung, kerjasama dan saling pengertian adalah kunci untuk mengatasi perbedaan dan konflik. Buku Politik Pengetahuan ini secara umum adalah bagian dari upaya Edward Said untuk menunjukkan keberpihakannya dalam berbagai isu baik di ranah politik, sejarah, budaya dan sastra. Sekaligus menyentil kita sebagai manusia yang berfikir dan bermatabat, bahwa setiap orang memiliki tanggungjawab intelektual terhadap sosial tanpa memandang suku, ras, agama, dan budaya yang memayunginya. Said memberikan jalan tengah untuk memahami hubungan cakrawala ilmu pengetahuan dan perkembangan politik, agar juga berani mengambil sikap dalam setiap kecenderungan dialektika dunia saat ini. Sayangnya buku ini hanya berisi sebagian kecil dari ide-ide dahsyat Edward Said, maka perlu juga untuk membaca esai-esai lengakapnya yang ada di buku Reflection on Exile: And Other Literary and Cultural Essays maupun karya Said lainnya, agar lebih fasih dalam memahami pikiran-pikiran kritisnya.