Tag: literature

  • Puisi-puisi Michael Djayadi

    Puisi-puisi Michael Djayadi

    Akan Kita Namakan Apa Suara di dalam Dada

    akan ada masanya
    kita kan mencuri ruang dan waktu
    hanya buat kau dan aku
    menari dan mati

    tapi sebelum waktu terus memburu nafas
    sebelum ruang menekan paru-paru
    semoga kita masih sempat melebarkan
    pelukan dan angan-angan

    walau angin dan dunia terasa sia-sia
    apalagi negara terus membikin
    kita ingin pergi dari sini
    tapi aku ingin kau tahu

    bahwa dalam setiap kesempatan dan langkah
    mungkin akan selalu terselip keganjilan-keganjilan:
    kenapa pagi tadi kita tak bermimpi
    di udara yang sama
    di pekak yang hampa
    di ranjang yang samar
    di sesat rindu yang susah pudar

    tapi di mana pun mimpi menjegal
    bahkan sekalipun dunia hanya
    mewartakan mati dan tak ada ranjang
    buat kita menari dan memapah desah
    satu sama lain
    semoga yang sebentar tak pernah lekang
    semoga yang jauh perlahan merapatkan hidungnya,
    sampai yang kita miliki
    hanya nama belakang masing-masing

    2026

    Aku Menemukan Dirimu sebagai Hari Jumat di Hari Mingguku

    Ketika aku mencintaimu
    Aku tidak melihat
    Perbedaan sebagai perbedaan.

    Tapi 5 tahun kemudian
    Aku merasa berdosa
    Ketika di hari minggu aku tidak
    Mencintai Seseorang di dalam diriku.

    2021-2026

    Nota Sebelum Umur 26

    21 Mei nanti umurku sudah 26. Umur yang pas untuk melakukan apa-apa yang katanya harus dimiliki sebelum umur 30. Ya nikah lah, punya anak lah, nyicil rumah dan mobil, dan sebagainya, dan sebagainya.

    Suharto juga dipaksa turun di tanggal ulang tahunku. Lahirnya Jeffrey Dahmer si kanibal juga di tanggal ulang tahunku. Dan kalau katanya Jemi, aku cina yang bagusnya bikin perserikatan untuk ulang tahunku. Tapi sayangnya aku kristen, protestan pula. Susah, Jem. Nanti banyak yang demo, kasihan mama papa sama adik perempuanku. Masa belum umur 30 tapi sudah tua dan lapuk di penjara?

    Aku sebenarnya juga kurang suka membicarakan umur. Apa karena aku bangsa timur? Ah tidak juga. Buktinya banyak kok yang masih mulai pembicaraan dengan tanya, “Umur berapa? Kok belum nikah?”

    Dan kalau ditanya akan jadi apa di umur 26, mungkin jawabanku cuma kepingin nulis puisi dan punya kesibukan selain nulis puisi. Entah sibuk kerja, atau sibuk nonton konser, aku masih belum tahu. Yang penting bukan sibuk mengeja cinta lagi. Capek, asli. Cinta memang cuma 5 huruf. Bisa dieja sama anak kecil. Tapi traumanya bisa kerasa sampai kita dewasa. Makanya kan Cupatkai bilang, “Dari dulu begitulah cina, deritanya tiada akhir.” Eh salah ya? Maksudku cinta.

    2026


    Meuz Prazt

    Face Project Series karya Meus Prazt
    30 x 40 cm
    Acrylic on canvas
    2017

    Jika ingin mengoleksi karya ini bisa menghubungi Keringat Sastra melalui,
    keringatsastra.official@gmail.com

  • Membayangkan Fiksi Populer yang Ideal

    Membayangkan Fiksi Populer yang Ideal

    Selama kuliah beberapa tahun lalu, obrolan yang disampaikan dosen tentang fiksi populer selalu berakhir kurang memuaskan. Fiksi populer selalu dilekatkan dengan ciri-ciri ditunjukan untuk khalayak ramai, bertujuan menghibur, serta ditandai dengan penjualan yang mudah & laris. Bukankah ciri-ciri demikian sejatinya juga bisa dilekatkan kepada yang disebut fiksi serius/adiluhung/tinggi/bertendens.

    Jika mengacu pada pendapat ahli kebudayaan populer, fiksi populer atau kebudayaan populer lainnya berangkat dari “niatan” komersial. Lha mbok kiro fiksi serius dibuat untuk tidak laku, gitu? Patokan penjualan tersebut membuat beberapa kawan saya bingung & mengajukan tanya, “apakah karya Pram yang laris atau novel Ronggeng Dukuh Paruk yang telah difilmkan masuk kategori fiksi populer?”

    Seorang yang dianggap salah satu kritikus sastra di Indonesia, lewat tulisannya di internet, menyandarkan salah satu ciri fiksi populer ialah menggunakan sampul berwarna cerah & ramai. Sungguh pendapat yang cukup lucu.

    Pendapat-pendapat di atas jelas berada pada ranah yang abu-abu. Tidak memuaskan & sulit dibuktikan. Di luar itu, ada juga penentu lain sebuah karya bisa dicap populer atau tidak. Misalnya mengacu pada ketok palu seorang kritikus sastra atau pembaptisan waktu. Pembaptisan waktu ini misalnya drama William Shakespeare dianggap fiksi populer pada zaman ketika karya itu hadir, tetapi sekarang secara luas diakui sebagai karya artistik yang serius. Penyebabnya, bisa jadi terjadi pergeseran wacana teoritis sastra.

    Semua hal di atas tentu membingungkan publik & alumni mahasiswa pendidikan seperti saya. Seolah-seolah cap populer dan tidak itu sifatnya cair, tak ada acuan yang ajeg. Fiksi serius sering berakar pada realitas kehidupan sehari-hari. Sedangkan fiksi populer cenderung ke arah pelarian (hiburan ringan). Karya fiksi populer dapat dikategorikan dalam sejumlah tema, seperti petualangan, romansa, misteri, thriller, fiksi ilmiah, atau horor.

    Agaknya, keyakinan kuat dalam menentukan pembeda fiksi populer & fiksi serius ialah mengembalikan tilikan pada teks. Fiksi populer biasanya menyandarkan titik tumpu pada plot-driven, struktur narasi konvensional. Sedangkan fiksi serius berpegang pada character-driven. Tumpuan pada plot & struktur narasi konvensional, biasanya menyebabkan sekaligus dimaksudkan kurang untuk memprovokasi refleksi mendalam atau apresiasi estetika. Karena plot yang konvensional itulah, menyebabkan mudah untuk dibaca, bisa dibaca dalam keadaan santai & cepat. Fiksi populer biasanya dijuluki page-turners. Sebuah buku yang bisa dibaca cepat, tanpa renungan mendalam, karena kesederhanaan plot & karakter di dalamnya.

    Plot-driven, cerita berbasis alur adalah gaya penceritaan yang tumpuan jalan cerita utamanya didorong oleh rangkaian peristiwa, aksi eksternal, dan konflik, bukan oleh perkembangan batin karakter. Fokus utamanya adalah pada apa yang terjadi—plot twist, aksi—daripada siapa yang mengalaminya.

    Di bawah ini saya rangkum karakteristik utama plot-driven:

    • Fokus pada Aksi dan Peristiwa: cerita bergerak cepat dari satu kejadian ke kejadian lainnya.
    • Konflik Eksternal: karakter bereaksi terhadap situasi luar (ancaman, misi) daripada konflik emosional internal.
    • Karakter Sekunder: karakter penting, tetapi jika diganti, cerita tetap berjalan sama karena plot lebih dominan.
    • Tujuan Jelas: seringkali ada tujuan eksternal yang harus dicapai oleh protagonis.
    • Tema Umum: umumnya ditemukan dalam fiksi ilmiah, misteri, thriller, dan fantasi.

    Perbedaan utamanya, dalam cerita plot-driven, karakter hadir untuk mewujudkan alur, sedangkan dalam character-driven, alur dibentuk oleh keputusan batin karakter.

    Pendapat yang umum terbelah selama ini, selalu menunjukan bahwa fiksi serius bagus, sedangkan fiksi populer buruk. Namun, dari pengalaman membaca saya, fiksi populer juga terbagi ke dalam dua kategori, yaitu bagus/lumayan & yang buruk sekali. Dua kategori tersebut tak memiliki korelasi yang selaras dengan pandangan bahwa fiksi populer selalu laku. Banyak pula fiksi populer yang menurut saya buruk, tapi penjualannya baik, karena nama si penulis sudah terkenal atau memiliki basis fans yang banyak. Fiksi populer biasanya memiliki kesamaan formula. Misal, jika pada sebelumnya sebuah novel populer yang berkisah tentang anak SMA tampan+romantis+bad boy+anggota geng motor, laris di pasaran, maka formula demikian atau yang mirip akan ditiru oleh penulis fiksi populer setelah.

    Karena fiksi populer mengedepankan fokus utama pada plot (plot-driven), memang benar bahwa cerita, plot, dan konfliknya sangat stereotip. Yang jika diganti dengan nama tokoh lain sama saja. Contohnya fiksi populer islami, biasanya tak jauh-jauh dari formula adanya pertentangan spiritual tokoh utama, adanya wacana hijrah. Baik hijrah dalam wacana spiritualisme atau hijrah dalam wacana perjalanan dari satu lokasi geografis ke geografis lainnya. Perpindahan geografis itu seringnya memicu perpindahan (hijrah) spitualisme. Contoh fiksi populer demikian ialah novel berjudul Assalamualaikum BeijingSurga yang Tak Dirindukan99 Cahaya di Langit EropaLove Sparks in KoreaNegeri 5 MenaraAyat-Ayat CintaPerempuan Berkalung Sorban, dll.

    Novel berjudul Hujan bergenre fiksi ilmiah, saya kategorikan ke dalam contoh fiksi populer yang buruk. Novel ini mengisahkan tentang Lail, seorang gadis yang berjuang mengatasi trauma setelah bencana letusan gunung api & gempa pada tahun 2042 merenggut orang tuanya. Di tengah dunia futuristik, Lail didampingi sahabatnya, Maryam, dan sosok Esok yang menolongnya. Kisah ini berfokus pada cinta, perpisahan, dan upaya menghapus kenangan menyakitkan. Kita bisa mengganti tahun, nama tokoh, jenis bencana, latar tempat, & takkan mengubah apa-apa yang berarti, karena berpatok pada plot-driven tadi. Saya membaca novel populer buruk itu karena dipaksa seorang dosen lewat tugas perkuliahan. Novel ini laris di pasaran karena penulisnya terkenal, Tere Liye.

    Fiksi populer tak ubahnya sinetron-sinetron Indonesia, yang bisa kita tebak ke arah mana cerita berjalan & berakhir. Biasanya tak banyak kemungkinan yang bisa kita bayangkan. Sedangkan fiksi serius, membuat kita sulit menerka apa yang terjadi, jangankan akhiran, pertengahan saja, seringkali kita tidak tahu akan mengisahkan apa & terdapat konflik apa. Kesulitan tersebut karena gerak cerita berpatok pada character-driven. Perubahan batin si tokoh mempengaruhi jalan cerita.

    Sedikit contoh fiksi serius yang digerakan oleh character-driven, yang dapat saya sebutkan ialah novel Cantik itu Luka yang bergerak karena perubahan batin pelacur bernama Dewi Ayu. Contoh lain yaitu, novel Lelaki Harimau yang berpusat pada pembunuhan brutal terhadap Anwar Sadat oleh Margio. Fokus cerita bukan pada siapa pelakunya, tetapi mengapa Margio melakukannya. Perubahan batin si Margio-lah yang menggerakkan cerita.

    Lalu, seperti apakah fiksi populer yang saya idealkan, yang lebih bagus dari fiksi populer yang buruk? Salah satu contoh yang bisa saya ajukan, novel The Little Paris Bookshop atau Toko Buku Kecil di Paris versi terjemahannya karya Nina George. Novel ini dalam versi Indonesia dialih bahasa oleh Utti Setiawati, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2017, setebal 440 halaman. Novel ini bergenre fiksi romansa.

    The Little Paris Bookshop mengisahkan seorang Jean Perdu, yang menyebut dirinya sebagai apoteker sastra. Dari toko bukunya yang terapung di atas tongkang di Sungai Seine, ia meresepkan novel untuk mengatasi kesulitan hidup. Dengan intuisinya yang tajam untuk menemukan buku yang tepat bagi seorang pembaca. Perdu menyembuhkan hati dan jiwa yang patah orang lain lewat buku yang ia rekomendasikan. Satu-satunya orang yang tampaknya tidak dapat ia sembuhkan melalui sastra adalah dirinya sendiri; ia masih dihantui oleh patah hati setelah kekasihnya pergi. Kekasihnya hanya meninggalkannya dengan sebuah surat, yang belum pernah & tak berani ia buka.

    Setelah Perdu akhirnya tergoda untuk membaca surat itu, ia mengangkat jangkar dan berangkat dalam sebuah misi ke Prancis Selatan, berharap untuk berdamai dengan kehilangannya dan menemukan akhir dari cerita tersebut. Ditemani oleh seorang penulis laris yang mengalami kebuntuan kreatif dan seorang koki Italia yang patah hati, Perdu melakukan perjalanan menyusuri sungai-sungai di negara itu, menyebarkan kebijaksanaan dan buku-bukunya, menunjukkan bahwa dunia sastra dapat membawa jiwa manusia dalam perjalanan untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

    Saya mengkategorikan novel ini sebagai fiksi populer. Adapun ciri-cirinya yang saya tangkap dari novel ini, yaitu temanya umum, bertema romansa. Novel ini bertitik pijak pada aksi Jean Perdu & peristiwa-peristiwa eksternal yang dialaminya. Salah satu peristiwa eksternal itu ialah misi pergi berkelana. Misi bepergian ini sangat identik fiksi populer, jika dalam novel populer islami hal tersebut juga terjadi, dengan sebutan hijrah. Karakter sekunder penting dalam novel ini ialah Manon, mantan kekasih Perdu di masa muda yang meninggalkannya bersama sepucuk surat. Jika karakter Manon diganti, maka cerita akan tetap berjalan sebagaimana mestinya, karena plot (plot-driven) yang dominan.

    Lalu, apa yang mendukung novel ini dikategorikan fiksi populer yang baik? Meskipun menggunakan kendaraan tema romansa, percintaan yang klise, pekerjaan & karakter tokoh utama novel ini tidak klise. Seorang tua yang belum bisa move on dari cinta masa muda & bekerja sebagai apoteker sastra. Saya jarang sekali menemukan tokoh yang demikian di fiksi populer. Fiksi populer biasanya diisi tokoh klise seorang pelajar/mahasiswa, ibu-ibu rumah tangga, pemimpin perusahaan kaya & tampan yang menyamar, atau tokoh menengah-bawah yang pontang panting mengejar cita-cita. Ciri terakhir misalnya novel populer Laskar PelangiSang Pemimpi karya Andrea Hirata, atau Negeri 5 Menara buah karya Ahmad Fuadi.

    Novel ini memang berjalan dengan plot dominan (plot-driven), tetapi perubahan batin tokoh (character-driven), si Jean Perdu juga berdampak pada jalan cerita. Perasaannya yang belum bisa sembuh dari patah hati berdampak pada upayanya dengan berlayar menyusur sungai. Selain itu, novel ini masuk dalam kategori julukan page-turners yang berhasil membuat saya mampu menyelesaikan 400 lebih halaman dengan mudah & tanpa beban bosan apaan sih ini. Beban bosan yang saya rasakan ketika membaca Hujan-nya Tere Liye & tak sanggup melanjutkan setelah 15 halaman.

  • Gus

    Gus

    Seorang kawan penulis muda dalam sebuah acara sastra mendapat kesempatan bertemu dengan Gus Tf Sakai, penyair, cerpenis, novelis asal Sumatera Barat. Si kawan cukup mengikuti karya-karya Gus Tf, Sastawan asal payakumbuh ini. Bertemu Gus Tf tentu tidak disia-siakan begitu saja.

    Dalam satu momen sarapan pagi atau waktu makan siang, si kawan berhasil mendekati dan mengajak Gus Tf ngobrol.

    Beberapa waktu kemudian si kawan datang dengan muka lesu.

    “Gus Tf gak asyik. Dingin orangnya…” begitu lebih kurang komentarnya.

    “Dingin gimana?” tanya saya.

    “Aku nanya-nanya kurang direspon. Aku sudah puji-puji karyanya, ‘Aku suka Tambo, novelmu itu loh Gus. Sudah kubaca dan resensi juga kumpulan puisi Susi’ Terus saya bilang, “saya ingin belajar menulis sama sampean, Gus.”

    Diam sejenak. Sang kawan masih tampak kecewa dan patah hati.

    “Terakhir aku bilang, ‘kasih tips untuk tetap bisa produktif menulis dong, Gus’.” Si kawan kembali melanjutkan obrolan. “Kau tahu, dia cuma diam dan menepuk bahuku sambal berlalu.”

    “Sebentar, kamu memanggilnya pakai Gus saja?” tanyaku.

    “Lha iya, dia Gus kan? Gus Tf, Gus Tf Sakai.”

    “Taek.” Aku tertawa. “Ya dia tersinggunglah dipanggil nama sama bocah macam situ.”

    Si kawan melongo, tidak mengerti.

    “Gus itu namanya, Gus Tf Sakai. Itu nama lengkap, ingat. Kamu kira “Gus” layaknya Gus Mus atau Gus Faisal, ya? Atau imbuhan-imbuhan sok keren kalian ke Gus Muh atau Gus Mulyadi? Gus itu nama depannya, bukan gelar kehormatan.” Aku tertawa, si kawan meringis saja. Malu dia, tentu.

  • Sebuah Peristiwa Sebelum Berbuka

    Sebuah Peristiwa Sebelum Berbuka

    Meksi hanya ingin memberikan sebuah kejutan kecil untuk suaminya petang nanti. Sebuah kejutan apa susahnya, sih? Menjelang maghrib suaminya akan pulang. Di bulan puasa ini dia pulang lebih cepat dari biasanya. Dua belas tahun pernikahan mereka tak banyak yang berubah kecuali tiga bocah, dua lelaki dan satu perempuan, yang membuat rumah kecil mereka semakin padat.

    Mereka tinggal di rumah sewaan yang terletak dalam sebuah gang yang padat. Layaknya pemukiman murah, rumah mereka terjepit di antara gedung dan jalan besar, berbatasan dan berhadapan langsung dengan pintu dan dinding tetangga. Pasangan suami-istri itu memilih tinggal di situ karena beberapa alasan yang tak perlu dituliskan di sini. Siapa pun punya pertimbangan mengenai hal tersebut, dan dalam kasus mereka, sebagaimana kehidupan tetangga-tetangga mereka, alasan-alasan yang dramatis itu tak bisa dikecualikan.

    Rumah mereka hanya terdiri dari dua ruangan saja, tiga jika dapur kecil yang ditutupi kardus itu bisa disebut ruang—satu kamar tidur dan satu ruang terbuka yang multiguna dan berubah fungsi di siang dan malam hari. Ruang tamu mereka dua kali lebih besar dari ukuran kamar tidur yang kesemua dindingnya terbuat dari triplek. Ruang depan dipadatkan oleh sebuah lemari—berisi piring-gelas, pakaian-pakaian bagus, kaca, sisir dan barang-barang lainnya. Empat kursi kayu tidak dapat didesain berhadap-hadapan dengan mejanya dan fungsinya pun jadi berubah. Dua kursi kayu dipenuhi tumpukan pakaian bersih dan kotor, satu kursi terletak di pinggir pintu, tempat yang biasa diduduki Agus untuk menonton televisi tua, dan penuh kenangan, yang diletakkan di kursi yang satu lagi berhadapan langsung dengan kamar tidur mereka. Sementara mejanya berubah menjadi tempat menaruh piring dan gelas.

    Dengan perabotan sebegitu, rumah mereka terlihat sangat penuh. Belum lagi tempat tidur yang ditaruh memanjang di depan ruang bagian belakang. Tempat tidur anak-anak itu pun tak luput dari kain-kain kotor dan barang-barang belanjaan. Kadang-kadang, bila televisi tidak dihidupkan, ruang belakang itu ditutupi kain berenda merah-kusam yang sekaligus menjadi lap tangan sehabis makan. Di atas sebuah meja seperti yang digunakan di sekolah dasar dengan cat-cat dan tiang yang sudah remuk, bergeletakan peralatan dapur yang lain. Dapur bersebelahan dengan kamar mandi yang sama tak terawatnya. Di dinding, foto-foto kusam pernikahan mereka saling tumpang-tindih dengan foto anak-anak mereka yang dipotret ketika bayi. Lalu sebagian foto-foto masa lalu mereka yang diberi bingkai besar, berisi beberapa foto Agus dan Meksi ketika mereka remaja dan tentu belum saling mengenal. Foto yang sendiri maupun bersama teman-temannya, foto yang diniatkan maupun karena peristiwa-peristiwa spontan. Nyaris tak bisa dikenali mana diri mereka di antara wajah-wajah yang tersenyum dan tertawa lebar itu. Selebihnya beberapa poster dan coretan tanggal di dinding, nama dan nomor HP dan tulisan-tulisan baru maupun lama yang tak terbaca ditulis dengan pulpen dan spidol, sebagai terlihat begitu rapi, sebagian lain seperti ditulis begitu tergesa-gesa. Semua itu tidak begitu berarti jika kita tidak terlibat dalam peristiwa ini dari dekat.

    Jika ada barang yang dianggap baru di rumah ini hanyalah kompor dan tabung gas bantuan dari pemerintah yang bentuknya pun sudah sangat menyedihkan. Buram, kotor dan tebal oleh kuah dan air tajin. Mereka akhirnya mendapat jatah kompor dan bantuan-bantuan semacam itu setelah menetap lebih dari enam tahun di gang kecil tanpa halaman tersebut meskipun masih saja tak punya KTP setempat. Tapi untuk sensus dan masa-masa kampanye, rumah mereka rajin disambangi oleh tim sukses para politus. Terbukti beberapa striker kecil dengan nama partai tertentu berjejel di pintu dan dalam ruangan rumah mereka.

    ***

    Nasib dan kota besar telah menyatukan mereka. Agus dan Meksi pernah bekerja di sebuah pabrik kulit yang memproduksi tas, dan sepatu. Sebagai buruh yang rajin, meskipun tanpa jaminan kesehatan, serta ketatnya pekerjaan membuat mereka tak punya banyak waktu untuk bercakap-cakap. Mereka pun bahkan sudah lupa, apakah selama bekerja di perusahaan tersebut, yang sangat alhamdulillah dibagi menjadi 3 sift perhari, pernah berbincang atau saling menegur.

    Siapa yang bisa menduga pemecatan sebagian besar pekerja yang kemudian disusul terbakarnya pabrik membuat mereka menjadi orang yang begitu dekat. Kesulitan selalu mempertemukan orang-orang yang satu nasib. Agus lebih dulu dipecat sebelum disusul Meksi yang keluar karena hangusnya pabrik. Bukan rahasia lagi di kalangan mereka kalau kebakaran itu adalah peristiwa yang disengaja. Beberapa peristiwa selanjutnya telah menumbuhkan benih cinta. Bersyukurlah mereka yang masih menemukan kebahagiaan di antara masa depan yang makin tak jelas. Cinta membuat mereka bisa bertahan dan tidak ikut-ikutan gila. Belum selesai urusan upah dan pesangon, kota tiba-tiba menjadi rusuh. Mahasiswa atau buruh yang masih berbicara hak di masa itu harus benar-benar paham resiko. Dalam aksi terakhir, sebelum mereka semua menyadari tak akan ada pembayaran apa pun untuk mereka, punggung, leher dan wajah Agus lebam kena pukulan. Dan selebihnya cintalah yang berbicara.

    Mereka belum menempati rumah yang sekarang ketika mereka memutuskan menikah. Negara sedang dalam kondisi porak-poranda ketika mereka menikmati malam pertama. Kawan-kawan jauh-dekat ikut menikmati kebahagiaan sederhana itu. Keluarga Agus datang dari kepulauan di Jawa Timur sana, begitu juga keluarga Meksi juga menyusul dari Sumatera. Selebihnya adalah kisah-kisah manis yang singkat yang disusul kesulitan-kesulitan ekonomi. Beberapa kali mereka mencoba memutuskan tinggal di kampung, mungkin di Jawa Timur atau Sumatera ketika mereka mudik sewaktu lebaran, tapi sekuat itu pula godaan kota dan berjuta kenangan menarik mereka untuk kembali. Kota itu besar, ada banyak sekali pekerjaan kalau mereka rajin memeras keringat.

    Terbukti, sampai hari ini mereka baik-baik saja. Setelah kelahiran anak pertama mereka Meksi memutuskan berhenti menjadi tukang cuci di sebuah laundry dan memilih tetap di rumah. Tapi nasib memang selalu berputar.

    ***

    Hari di mana Meksi ingin memberikan kejutan kecil untuk suaminya itu, adalah sebuah sore yang menjadi tidak biasa. Orang banyak akan mengenang kisah ini sebagai bualan yang manis atas hidup mereka yang buruk. Hari itu, setidaknya untuk orang-orang yang tinggal di gang sempit itu, akan dikenang lebih lama.

    Tidak banyak yang dilakukan meksi sore itu. Ia hanya memasak agar-agar sehabis ia membikin bakwan jagung, makanan kesukaan suaminya itu. Meski murah dan gampang, tetapi tak selalu Meksi menghidangkan agar-agar di meja makan.

    Agus akan pulang menjelang waktu berbuka. Biasanya ia pulang menjelang isya. Kredit motor sedang ganas-ganasnya menyerbu membuat Agus tergiur dengan cicilannya yang murah, tapi mesti dibayar setiap bulan. Persyaratannya tak susah-susah amat. Dia punya ijazah sekolah menengah sebagai jaminan.

    Meksi menggendong Ina, si bungsu, bocah tiga tahunan yang sedang pilek itu. Bendri si sulung, suka bantu-bantu di warung Mbah Jon sejak sepulang sekolah sampai sore. Ia ia akan selalu pulang menjelang magrib. Pendi, yang nomor dua baru akan pulang kalau adzan maghrib berkumandang di masjid yang terhimpit pemukiman di seberang gang. Dan urusan memasak sekarang menjadi gampang, tinggal, klik, seperti kata mbak-mbak di iklan layanan masyarakat, masakan pun jadi. “Hebat,” kata Meksi ketika itu. “Negara kita semakin maju. Sekarang kompor gas, besok mungkin air panas siap minum akan mengalir ke kran kita.”

    “Di mana kran itu mau ditaruh?” Balas Agus ketika itu sibuk menonton gosip artis di sore hari.

    Meksi tak harus menjawab pertanyaan itu. Setidaknya ketika mendapat jatah kompor gas dan tabung gas kecil ia merasa jadi warga sebuah negara. Ia merasa begitu diperhatikan. Selama ini mereka hampir tak pernah dapat apa-apa. Tidak ada jatah BLT, tidak ada biaya sekolah gratis untuk si Bendri dan Pendi.

    “Kita masih beruntung. Mungkin mereka menganggap kita orang mampu,” kata Agus ketika itu. Dia memang tak mau repot-repot berpikir soal negara dan pemerintah.

    Tapi Meksi, sebagaimana ibu-ibu lain di tempat tinggal mereka yang lebih banyak menonton televisi di siang hari merasa tetap punya hak untuk diperhatikan.

    “Bukan itu masalahnya, Pak…”

    “Sudah, sudah. Kau mau bilang kan kalau Yudi anaknya Bu Rini saja dapat keringanan biaya sekolah. Bude Sarmi saja kok bisa-bisanya dapat bantuan dana. Yang penting aku bisa kerja, tidak ada yang sakit, itu sudah cukup.”

    Itulah kadang-kadang yang disuka Meksi dari suaminya. Dia praktis, tidak macam-macam. Kebahagiaan kadangkala memang tidak selalu didapat lewat harta, begitu keyakinan Meksi sebagaimana acara motivasi yang pernah ia tonton di televisi. Dia punya contoh untuk itu. Tinggal tunjuk saja satu rumah dan bagaimana kehidupan mereka. Di tempat sempit begini, tak ada yang rahasia antar tetangga.

    Agar-agarnya mulai bergelombang, sebentar lagi siap diangkat dan tinggal didinginkan. Begitu adzan magrib berkumandang, keluarga kecil itu akan berbuka dengan agar-agar manis. Meksi tersenyum manis, Ina menangis karena kepanasan.

    “Masak apa, Mak?” Pendi yang baru pulang langsung ke dapur. “Hmm… baunya, bikin puasaku mau batal saja.”

    “Huss.. puasa-puasa ndak boleh ngomong begitu. Nanti batal beneran.” Sahut Meksi sambil tetap sibuk mengaduk agar-agarnya di kuali.

    “Buat bapakmu,” lanjut Meksi ketika Pendi mulai ikut mengintip di samping ibunya. Meskipun untuk bapak, Pendi tahu agar-agar itu akan menjadi miliknya juga.

    “Tolong diangkat sekalian, Pen,” Meksi meminta anaknya untuk mendekat. Si Ina menangis semakin kencang, Meksi terpaksa harus menaik-turunkan dari gendongan.  

    Pendi memang paling rajin di dapur kalau ibunya sedang memasak. Apalagi di bulan puasa begini. Kompor belum di matikan ketika tercium bau gas yang disusul percik api.

    “Tabung gas Mak, awas tabung gas,” teriak Pendi kebingungan. Sebelum sempat mereka melakukan apa pun, terdengar ledakan kencang di gang sempit itu.

    Lalu api, kemudian teriakan orang-orang…

    Dari jauh adzan magrib berkumandang.