Tag: poetry

  • Puisi-puisi Michael Djayadi

    Puisi-puisi Michael Djayadi

    Akan Kita Namakan Apa Suara di dalam Dada

    akan ada masanya
    kita kan mencuri ruang dan waktu
    hanya buat kau dan aku
    menari dan mati

    tapi sebelum waktu terus memburu nafas
    sebelum ruang menekan paru-paru
    semoga kita masih sempat melebarkan
    pelukan dan angan-angan

    walau angin dan dunia terasa sia-sia
    apalagi negara terus membikin
    kita ingin pergi dari sini
    tapi aku ingin kau tahu

    bahwa dalam setiap kesempatan dan langkah
    mungkin akan selalu terselip keganjilan-keganjilan:
    kenapa pagi tadi kita tak bermimpi
    di udara yang sama
    di pekak yang hampa
    di ranjang yang samar
    di sesat rindu yang susah pudar

    tapi di mana pun mimpi menjegal
    bahkan sekalipun dunia hanya
    mewartakan mati dan tak ada ranjang
    buat kita menari dan memapah desah
    satu sama lain
    semoga yang sebentar tak pernah lekang
    semoga yang jauh perlahan merapatkan hidungnya,
    sampai yang kita miliki
    hanya nama belakang masing-masing

    2026

    Aku Menemukan Dirimu sebagai Hari Jumat di Hari Mingguku

    Ketika aku mencintaimu
    Aku tidak melihat
    Perbedaan sebagai perbedaan.

    Tapi 5 tahun kemudian
    Aku merasa berdosa
    Ketika di hari minggu aku tidak
    Mencintai Seseorang di dalam diriku.

    2021-2026

    Nota Sebelum Umur 26

    21 Mei nanti umurku sudah 26. Umur yang pas untuk melakukan apa-apa yang katanya harus dimiliki sebelum umur 30. Ya nikah lah, punya anak lah, nyicil rumah dan mobil, dan sebagainya, dan sebagainya.

    Suharto juga dipaksa turun di tanggal ulang tahunku. Lahirnya Jeffrey Dahmer si kanibal juga di tanggal ulang tahunku. Dan kalau katanya Jemi, aku cina yang bagusnya bikin perserikatan untuk ulang tahunku. Tapi sayangnya aku kristen, protestan pula. Susah, Jem. Nanti banyak yang demo, kasihan mama papa sama adik perempuanku. Masa belum umur 30 tapi sudah tua dan lapuk di penjara?

    Aku sebenarnya juga kurang suka membicarakan umur. Apa karena aku bangsa timur? Ah tidak juga. Buktinya banyak kok yang masih mulai pembicaraan dengan tanya, “Umur berapa? Kok belum nikah?”

    Dan kalau ditanya akan jadi apa di umur 26, mungkin jawabanku cuma kepingin nulis puisi dan punya kesibukan selain nulis puisi. Entah sibuk kerja, atau sibuk nonton konser, aku masih belum tahu. Yang penting bukan sibuk mengeja cinta lagi. Capek, asli. Cinta memang cuma 5 huruf. Bisa dieja sama anak kecil. Tapi traumanya bisa kerasa sampai kita dewasa. Makanya kan Cupatkai bilang, “Dari dulu begitulah cina, deritanya tiada akhir.” Eh salah ya? Maksudku cinta.

    2026


    Meuz Prazt

    Face Project Series karya Meus Prazt
    30 x 40 cm
    Acrylic on canvas
    2017

    Jika ingin mengoleksi karya ini bisa menghubungi Keringat Sastra melalui,
    keringatsastra.official@gmail.com