Tag: sastrawan

  • Wawancara Ilda Karwayu

    Wawancara Ilda Karwayu

    Salam dari Keringatsastra.id buat para pembaca yang budiman. Semoga hari-hari kita membahagiakan dan penuh berkah. Kami mempersembahkan kolom “Wawancara Sastra” agar dapat dinikmati pembaca sebagai sharing proses kepenulisan. Edisi perdana ini kami memilih Ilda Karwayu seorang penulis dari kota Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat menjadi narasumber. Semoga menambah wacana dan menginspirasi para pembaca sekalian. Baiklah, selamat membaca hasil wawancara dengan Ilda Karwayu.

    1. Apa kesibukan anda saat ini?

    a. Bekerja sebagai guru Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia

    b. Merampungkan naskah novela

    c. Melakukan Tur Buku Himpunan Puisi Penyair Perempuan NTB Vol.2: Memasuki Ladang (Akarpohon, 2025).

    2. Kapan mulai berkarya, menulis apa, dan apa motivasinya?

    a. Berkarya, dalam arti menulis sembarang saja, dimulai sejak SMP. Namun jika hitungannya dimulai dari berkarya secara serius—tak hanya menulis dan membaca, tapi juga memahami sejarah sastra dan bagaimana sastra bekerja di peta kebudayaan Indonesia—tentu sejak belajar di Komunitas Akarpohon Mataram, sekitar tahun 2012.

    b. Awalnya menulis puisi dan esai singkat; lama-lama mencoba nulis cerita pendek juga.

    c. Motivasi menulis berganti-ganti—seiring bertambahnya usia. Untuk sekarang, barangkali motivasinya adalah mempertahankan ruang bebas sekaligus disiplin dalam diri.

    3. Apa yang ingin disuarakan dalam karya tulis waktu itu? Kalau sekarang tentang apa?

    a. Waktu itu: aktivisme (?)—yang ternyata bersifat permukaan saja sehingga tak berhasil-hasil amat.

    b. Sekarang: masih mencari, belum yakin betul, tapi beberapa karya didominasi oleh bagaimana relasi manusia terjadi sehari-hari; tubuh terhadap jiwa, manusia terhadap manusia lainnya, manusia terhadap entitas lain di luar dirinya, dll.

    4. Apa yang membuat betah di profesi sebagai penulis?

    Menulis masih jadi satu-satunya kegiatan tempat saya menepi dari realitas. Selain itu, kerja-kerja kepenulisan telah membawa saya kepada banyak kesempatan tak terduga: mulai dari berkawan sesama penulis, sampai memahami dan kemudian turut menggerakkan ekosistem sastra & sekitarnya.

    5. Apa yang ingin anda capai dalam bersastra? Apakah sudah ada yang tercapai?

    Sejak kecil saya senang membaca buku cerita dan puisi; akhirnya berkeinginan juga menulis buku sejenis. Ada yang sudah tercapai, lainnya dalam proses.

    6. Seperti apa anda melihat dunia sastra saat ini? Baik karya, pelaku, respons pasar, dan isi karya sastra yang anda ikuti sampai saat ini?

    Rumit sekali pertanyaan ini! Dari sekian banyak poin serta sudut pandang terhadap pertanyaan tersebut, ada dua kegelisahanku atas dunia sastra Indonesia saat ini:

    • Buku sastra makin mudah dan banyak diterbitkan, pun distribusinya makin gencar diupayakan; tapi pembajakannya juga belum retas. Mengapa?
    • Ada banyak isu (berfokus pada karya sastra) yang perlu diperbincangkan serius tapi sifatnya masih angin-anginan; satu di antaranya ialah plagiarisme. Menurutku, kasus ini masih penting untuk terus digaungkan sampai—paling tidak—solusinya ada, dan diwujudkan; bukan sekadar heboh-heboh saat kasusnya mencuat.

    Akhirnya, kita barangkali bersepakat bahwa kedua hal di atas bermuara pada bagaimana penyelenggara negara menentukan sanksi. Namun, kita, sebagai bagian dari ekosistem sastra, mestinya juga bisa melakukan sesuatu secara kolektif.

    7. Buku apa yang paling berpengaruh?

    Berpengaruh bagi siapa? Saya? Berubah-ubah. Untuk saat ini saya gandrung membaca buku-buku nonfiksi; beberapa di antaranya, All About Love karya bell hooks dan Neksus karya Yuval Noah Harari. Untuk fiksi, Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal menjadi palu yang mengetok keras kepalaku.

    8. Apakah dalam merakit tulisan menggunakan suatu cara/metode tertentu?

    Sejauh ini saya selalu terbantu dengan peta pikiran. Namun, tak jarang pula mencoba menulis saja tanpa metode di awal.

    9. Bidang lain apa yang berperan besar dalam proses menulis?

    • Profesi guru bahasa. Menyiapkan bahan ajar, salah satunya, perlu membaca ulang teori bahasa. Di situ, saya kerapkali melakukan percobaan-percobaan banding-bongkar kata (antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris), tilik makna, dll. Selain itu, mengamati cara manusia berinteraksi di kelas cukup merupakan laboratorium karakter.
    • Seni pertunjukan; baik teater atau pun musik. Tak jarang, timbal balik dari menyaksikan pertunjukan ialah adaptasi pola kerja kreatifnya. Ia bisa direnung-renungkan, atau dicoba-cobakan ke dalam proses kreatif menulis.

    ILDA KARWAYU, menulis puisi, fiksi, dan non-fiksi. Buku puisinya Binatang Kesepian dalam Tubuhmu (GPU, 2020) masuk nomine Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Tahun 2022. Aktif berkegiatan di Komunitas Akarpohon Mataram dan Sekolah Pemikiran Perempuan (SPP). Pernah hadir sebagai salah satu emerging writers di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2019; dan pada 2024-2025 turut terlibat mengelola MIWF sebagai Co-director.


    Little Paradise, Iskandar SY, 2025

    Little Paradise karya Iskandar SY
    100 cm X 100 cm
    Acrylic on Canvas
    2025

    Jika ingin mengoleksi karya ini bisa menghubungi Keringat Sastra melalui,
    keringatsastra.official@gmail.com