Beranda » Sebuah Peristiwa Sebelum Berbuka

Sebuah Peristiwa Sebelum Berbuka

by Indrian Koto
0 comments

Meksi hanya ingin memberikan sebuah kejutan kecil untuk suaminya petang nanti. Sebuah kejutan apa susahnya, sih? Menjelang maghrib suaminya akan pulang. Di bulan puasa ini dia pulang lebih cepat dari biasanya. Dua belas tahun pernikahan mereka tak banyak yang berubah kecuali tiga bocah, dua lelaki dan satu perempuan, yang membuat rumah kecil mereka semakin padat.

Mereka tinggal di rumah sewaan yang terletak dalam sebuah gang yang padat. Layaknya pemukiman murah, rumah mereka terjepit di antara gedung dan jalan besar, berbatasan dan berhadapan langsung dengan pintu dan dinding tetangga. Pasangan suami-istri itu memilih tinggal di situ karena beberapa alasan yang tak perlu dituliskan di sini. Siapa pun punya pertimbangan mengenai hal tersebut, dan dalam kasus mereka, sebagaimana kehidupan tetangga-tetangga mereka, alasan-alasan yang dramatis itu tak bisa dikecualikan.

Rumah mereka hanya terdiri dari dua ruangan saja, tiga jika dapur kecil yang ditutupi kardus itu bisa disebut ruang—satu kamar tidur dan satu ruang terbuka yang multiguna dan berubah fungsi di siang dan malam hari. Ruang tamu mereka dua kali lebih besar dari ukuran kamar tidur yang kesemua dindingnya terbuat dari triplek. Ruang depan dipadatkan oleh sebuah lemari—berisi piring-gelas, pakaian-pakaian bagus, kaca, sisir dan barang-barang lainnya. Empat kursi kayu tidak dapat didesain berhadap-hadapan dengan mejanya dan fungsinya pun jadi berubah. Dua kursi kayu dipenuhi tumpukan pakaian bersih dan kotor, satu kursi terletak di pinggir pintu, tempat yang biasa diduduki Agus untuk menonton televisi tua, dan penuh kenangan, yang diletakkan di kursi yang satu lagi berhadapan langsung dengan kamar tidur mereka. Sementara mejanya berubah menjadi tempat menaruh piring dan gelas.

Dengan perabotan sebegitu, rumah mereka terlihat sangat penuh. Belum lagi tempat tidur yang ditaruh memanjang di depan ruang bagian belakang. Tempat tidur anak-anak itu pun tak luput dari kain-kain kotor dan barang-barang belanjaan. Kadang-kadang, bila televisi tidak dihidupkan, ruang belakang itu ditutupi kain berenda merah-kusam yang sekaligus menjadi lap tangan sehabis makan. Di atas sebuah meja seperti yang digunakan di sekolah dasar dengan cat-cat dan tiang yang sudah remuk, bergeletakan peralatan dapur yang lain. Dapur bersebelahan dengan kamar mandi yang sama tak terawatnya. Di dinding, foto-foto kusam pernikahan mereka saling tumpang-tindih dengan foto anak-anak mereka yang dipotret ketika bayi. Lalu sebagian foto-foto masa lalu mereka yang diberi bingkai besar, berisi beberapa foto Agus dan Meksi ketika mereka remaja dan tentu belum saling mengenal. Foto yang sendiri maupun bersama teman-temannya, foto yang diniatkan maupun karena peristiwa-peristiwa spontan. Nyaris tak bisa dikenali mana diri mereka di antara wajah-wajah yang tersenyum dan tertawa lebar itu. Selebihnya beberapa poster dan coretan tanggal di dinding, nama dan nomor HP dan tulisan-tulisan baru maupun lama yang tak terbaca ditulis dengan pulpen dan spidol, sebagai terlihat begitu rapi, sebagian lain seperti ditulis begitu tergesa-gesa. Semua itu tidak begitu berarti jika kita tidak terlibat dalam peristiwa ini dari dekat.

Jika ada barang yang dianggap baru di rumah ini hanyalah kompor dan tabung gas bantuan dari pemerintah yang bentuknya pun sudah sangat menyedihkan. Buram, kotor dan tebal oleh kuah dan air tajin. Mereka akhirnya mendapat jatah kompor dan bantuan-bantuan semacam itu setelah menetap lebih dari enam tahun di gang kecil tanpa halaman tersebut meskipun masih saja tak punya KTP setempat. Tapi untuk sensus dan masa-masa kampanye, rumah mereka rajin disambangi oleh tim sukses para politus. Terbukti beberapa striker kecil dengan nama partai tertentu berjejel di pintu dan dalam ruangan rumah mereka.

***

Nasib dan kota besar telah menyatukan mereka. Agus dan Meksi pernah bekerja di sebuah pabrik kulit yang memproduksi tas, dan sepatu. Sebagai buruh yang rajin, meskipun tanpa jaminan kesehatan, serta ketatnya pekerjaan membuat mereka tak punya banyak waktu untuk bercakap-cakap. Mereka pun bahkan sudah lupa, apakah selama bekerja di perusahaan tersebut, yang sangat alhamdulillah dibagi menjadi 3 sift perhari, pernah berbincang atau saling menegur.

Siapa yang bisa menduga pemecatan sebagian besar pekerja yang kemudian disusul terbakarnya pabrik membuat mereka menjadi orang yang begitu dekat. Kesulitan selalu mempertemukan orang-orang yang satu nasib. Agus lebih dulu dipecat sebelum disusul Meksi yang keluar karena hangusnya pabrik. Bukan rahasia lagi di kalangan mereka kalau kebakaran itu adalah peristiwa yang disengaja. Beberapa peristiwa selanjutnya telah menumbuhkan benih cinta. Bersyukurlah mereka yang masih menemukan kebahagiaan di antara masa depan yang makin tak jelas. Cinta membuat mereka bisa bertahan dan tidak ikut-ikutan gila. Belum selesai urusan upah dan pesangon, kota tiba-tiba menjadi rusuh. Mahasiswa atau buruh yang masih berbicara hak di masa itu harus benar-benar paham resiko. Dalam aksi terakhir, sebelum mereka semua menyadari tak akan ada pembayaran apa pun untuk mereka, punggung, leher dan wajah Agus lebam kena pukulan. Dan selebihnya cintalah yang berbicara.

Mereka belum menempati rumah yang sekarang ketika mereka memutuskan menikah. Negara sedang dalam kondisi porak-poranda ketika mereka menikmati malam pertama. Kawan-kawan jauh-dekat ikut menikmati kebahagiaan sederhana itu. Keluarga Agus datang dari kepulauan di Jawa Timur sana, begitu juga keluarga Meksi juga menyusul dari Sumatera. Selebihnya adalah kisah-kisah manis yang singkat yang disusul kesulitan-kesulitan ekonomi. Beberapa kali mereka mencoba memutuskan tinggal di kampung, mungkin di Jawa Timur atau Sumatera ketika mereka mudik sewaktu lebaran, tapi sekuat itu pula godaan kota dan berjuta kenangan menarik mereka untuk kembali. Kota itu besar, ada banyak sekali pekerjaan kalau mereka rajin memeras keringat.

Terbukti, sampai hari ini mereka baik-baik saja. Setelah kelahiran anak pertama mereka Meksi memutuskan berhenti menjadi tukang cuci di sebuah laundry dan memilih tetap di rumah. Tapi nasib memang selalu berputar.

***

Hari di mana Meksi ingin memberikan kejutan kecil untuk suaminya itu, adalah sebuah sore yang menjadi tidak biasa. Orang banyak akan mengenang kisah ini sebagai bualan yang manis atas hidup mereka yang buruk. Hari itu, setidaknya untuk orang-orang yang tinggal di gang sempit itu, akan dikenang lebih lama.

Tidak banyak yang dilakukan meksi sore itu. Ia hanya memasak agar-agar sehabis ia membikin bakwan jagung, makanan kesukaan suaminya itu. Meski murah dan gampang, tetapi tak selalu Meksi menghidangkan agar-agar di meja makan.

Agus akan pulang menjelang waktu berbuka. Biasanya ia pulang menjelang isya. Kredit motor sedang ganas-ganasnya menyerbu membuat Agus tergiur dengan cicilannya yang murah, tapi mesti dibayar setiap bulan. Persyaratannya tak susah-susah amat. Dia punya ijazah sekolah menengah sebagai jaminan.

Meksi menggendong Ina, si bungsu, bocah tiga tahunan yang sedang pilek itu. Bendri si sulung, suka bantu-bantu di warung Mbah Jon sejak sepulang sekolah sampai sore. Ia ia akan selalu pulang menjelang magrib. Pendi, yang nomor dua baru akan pulang kalau adzan maghrib berkumandang di masjid yang terhimpit pemukiman di seberang gang. Dan urusan memasak sekarang menjadi gampang, tinggal, klik, seperti kata mbak-mbak di iklan layanan masyarakat, masakan pun jadi. “Hebat,” kata Meksi ketika itu. “Negara kita semakin maju. Sekarang kompor gas, besok mungkin air panas siap minum akan mengalir ke kran kita.”

“Di mana kran itu mau ditaruh?” Balas Agus ketika itu sibuk menonton gosip artis di sore hari.

Meksi tak harus menjawab pertanyaan itu. Setidaknya ketika mendapat jatah kompor gas dan tabung gas kecil ia merasa jadi warga sebuah negara. Ia merasa begitu diperhatikan. Selama ini mereka hampir tak pernah dapat apa-apa. Tidak ada jatah BLT, tidak ada biaya sekolah gratis untuk si Bendri dan Pendi.

“Kita masih beruntung. Mungkin mereka menganggap kita orang mampu,” kata Agus ketika itu. Dia memang tak mau repot-repot berpikir soal negara dan pemerintah.

Tapi Meksi, sebagaimana ibu-ibu lain di tempat tinggal mereka yang lebih banyak menonton televisi di siang hari merasa tetap punya hak untuk diperhatikan.

“Bukan itu masalahnya, Pak…”

“Sudah, sudah. Kau mau bilang kan kalau Yudi anaknya Bu Rini saja dapat keringanan biaya sekolah. Bude Sarmi saja kok bisa-bisanya dapat bantuan dana. Yang penting aku bisa kerja, tidak ada yang sakit, itu sudah cukup.”

Itulah kadang-kadang yang disuka Meksi dari suaminya. Dia praktis, tidak macam-macam. Kebahagiaan kadangkala memang tidak selalu didapat lewat harta, begitu keyakinan Meksi sebagaimana acara motivasi yang pernah ia tonton di televisi. Dia punya contoh untuk itu. Tinggal tunjuk saja satu rumah dan bagaimana kehidupan mereka. Di tempat sempit begini, tak ada yang rahasia antar tetangga.

Agar-agarnya mulai bergelombang, sebentar lagi siap diangkat dan tinggal didinginkan. Begitu adzan magrib berkumandang, keluarga kecil itu akan berbuka dengan agar-agar manis. Meksi tersenyum manis, Ina menangis karena kepanasan.

“Masak apa, Mak?” Pendi yang baru pulang langsung ke dapur. “Hmm… baunya, bikin puasaku mau batal saja.”

“Huss.. puasa-puasa ndak boleh ngomong begitu. Nanti batal beneran.” Sahut Meksi sambil tetap sibuk mengaduk agar-agarnya di kuali.

“Buat bapakmu,” lanjut Meksi ketika Pendi mulai ikut mengintip di samping ibunya. Meskipun untuk bapak, Pendi tahu agar-agar itu akan menjadi miliknya juga.

“Tolong diangkat sekalian, Pen,” Meksi meminta anaknya untuk mendekat. Si Ina menangis semakin kencang, Meksi terpaksa harus menaik-turunkan dari gendongan.  

Pendi memang paling rajin di dapur kalau ibunya sedang memasak. Apalagi di bulan puasa begini. Kompor belum di matikan ketika tercium bau gas yang disusul percik api.

“Tabung gas Mak, awas tabung gas,” teriak Pendi kebingungan. Sebelum sempat mereka melakukan apa pun, terdengar ledakan kencang di gang sempit itu.

Lalu api, kemudian teriakan orang-orang…

Dari jauh adzan magrib berkumandang.

Leave a Comment

About Us

Keringat Sastra dibentuk untuk membangun, mengimajinasikan dan menyelenggarakan kegiatan bersastra disekitar kita dan Indonesia. Sastra akan tumbuh organik dan menguat.

Tim Redaksi

Susunan Redaksi

Pimpinan Produksi : Andy Sri Wahyudi

Pimpinan Redaksi : Indrian Koto

Admin & Sekretaris : Bayu Aji Setiawan

Humas & Bendahara : Tiaswening Maharsi

 

Redaksi:

Andy Sri Wahyudi

Indrian Koto

Tiaswening Maharsi

Bayu Aji Setiawan

Follow Us

@Keringat Sastra, A Media Company, All Right Reserved.