Seorang kawan penulis muda dalam sebuah acara sastra mendapat kesempatan bertemu dengan Gus Tf Sakai, penyair, cerpenis, novelis asal Sumatera Barat. Si kawan cukup mengikuti karya-karya Gus Tf, Sastawan asal payakumbuh ini. Bertemu Gus Tf tentu tidak disia-siakan begitu saja.
Dalam satu momen sarapan pagi atau waktu makan siang, si kawan berhasil mendekati dan mengajak Gus Tf ngobrol.
Beberapa waktu kemudian si kawan datang dengan muka lesu.
“Gus Tf gak asyik. Dingin orangnya…” begitu lebih kurang komentarnya.
“Dingin gimana?” tanya saya.
“Aku nanya-nanya kurang direspon. Aku sudah puji-puji karyanya, ‘Aku suka Tambo, novelmu itu loh Gus. Sudah kubaca dan resensi juga kumpulan puisi Susi’ Terus saya bilang, “saya ingin belajar menulis sama sampean, Gus.”
Diam sejenak. Sang kawan masih tampak kecewa dan patah hati.
“Terakhir aku bilang, ‘kasih tips untuk tetap bisa produktif menulis dong, Gus’.” Si kawan kembali melanjutkan obrolan. “Kau tahu, dia cuma diam dan menepuk bahuku sambal berlalu.”
“Sebentar, kamu memanggilnya pakai Gus saja?” tanyaku.
“Lha iya, dia Gus kan? Gus Tf, Gus Tf Sakai.”
“Taek.” Aku tertawa. “Ya dia tersinggunglah dipanggil nama sama bocah macam situ.”
Si kawan melongo, tidak mengerti.
“Gus itu namanya, Gus Tf Sakai. Itu nama lengkap, ingat. Kamu kira “Gus” layaknya Gus Mus atau Gus Faisal, ya? Atau imbuhan-imbuhan sok keren kalian ke Gus Muh atau Gus Mulyadi? Gus itu nama depannya, bukan gelar kehormatan.” Aku tertawa, si kawan meringis saja. Malu dia, tentu.