Selama kuliah beberapa tahun lalu, obrolan yang disampaikan dosen tentang fiksi populer selalu berakhir kurang memuaskan. Fiksi populer selalu dilekatkan dengan ciri-ciri ditunjukan untuk khalayak ramai, bertujuan menghibur, serta ditandai dengan penjualan yang mudah & laris. Bukankah ciri-ciri demikian sejatinya juga bisa dilekatkan kepada yang disebut fiksi serius/adiluhung/tinggi/bertendens.
Jika mengacu pada pendapat ahli kebudayaan populer, fiksi populer atau kebudayaan populer lainnya berangkat dari “niatan” komersial. Lha mbok kiro fiksi serius dibuat untuk tidak laku, gitu? Patokan penjualan tersebut membuat beberapa kawan saya bingung & mengajukan tanya, “apakah karya Pram yang laris atau novel Ronggeng Dukuh Paruk yang telah difilmkan masuk kategori fiksi populer?”
Seorang yang dianggap salah satu kritikus sastra di Indonesia, lewat tulisannya di internet, menyandarkan salah satu ciri fiksi populer ialah menggunakan sampul berwarna cerah & ramai. Sungguh pendapat yang cukup lucu.
Pendapat-pendapat di atas jelas berada pada ranah yang abu-abu. Tidak memuaskan & sulit dibuktikan. Di luar itu, ada juga penentu lain sebuah karya bisa dicap populer atau tidak. Misalnya mengacu pada ketok palu seorang kritikus sastra atau pembaptisan waktu. Pembaptisan waktu ini misalnya drama William Shakespeare dianggap fiksi populer pada zaman ketika karya itu hadir, tetapi sekarang secara luas diakui sebagai karya artistik yang serius. Penyebabnya, bisa jadi terjadi pergeseran wacana teoritis sastra.
Semua hal di atas tentu membingungkan publik & alumni mahasiswa pendidikan seperti saya. Seolah-seolah cap populer dan tidak itu sifatnya cair, tak ada acuan yang ajeg. Fiksi serius sering berakar pada realitas kehidupan sehari-hari. Sedangkan fiksi populer cenderung ke arah pelarian (hiburan ringan). Karya fiksi populer dapat dikategorikan dalam sejumlah tema, seperti petualangan, romansa, misteri, thriller, fiksi ilmiah, atau horor.
Agaknya, keyakinan kuat dalam menentukan pembeda fiksi populer & fiksi serius ialah mengembalikan tilikan pada teks. Fiksi populer biasanya menyandarkan titik tumpu pada plot-driven, struktur narasi konvensional. Sedangkan fiksi serius berpegang pada character-driven. Tumpuan pada plot & struktur narasi konvensional, biasanya menyebabkan sekaligus dimaksudkan kurang untuk memprovokasi refleksi mendalam atau apresiasi estetika. Karena plot yang konvensional itulah, menyebabkan mudah untuk dibaca, bisa dibaca dalam keadaan santai & cepat. Fiksi populer biasanya dijuluki page-turners. Sebuah buku yang bisa dibaca cepat, tanpa renungan mendalam, karena kesederhanaan plot & karakter di dalamnya.
Plot-driven, cerita berbasis alur adalah gaya penceritaan yang tumpuan jalan cerita utamanya didorong oleh rangkaian peristiwa, aksi eksternal, dan konflik, bukan oleh perkembangan batin karakter. Fokus utamanya adalah pada apa yang terjadi—plot twist, aksi—daripada siapa yang mengalaminya.
Di bawah ini saya rangkum karakteristik utama plot-driven:
- Fokus pada Aksi dan Peristiwa: cerita bergerak cepat dari satu kejadian ke kejadian lainnya.
- Konflik Eksternal: karakter bereaksi terhadap situasi luar (ancaman, misi) daripada konflik emosional internal.
- Karakter Sekunder: karakter penting, tetapi jika diganti, cerita tetap berjalan sama karena plot lebih dominan.
- Tujuan Jelas: seringkali ada tujuan eksternal yang harus dicapai oleh protagonis.
- Tema Umum: umumnya ditemukan dalam fiksi ilmiah, misteri, thriller, dan fantasi.
Perbedaan utamanya, dalam cerita plot-driven, karakter hadir untuk mewujudkan alur, sedangkan dalam character-driven, alur dibentuk oleh keputusan batin karakter.
Pendapat yang umum terbelah selama ini, selalu menunjukan bahwa fiksi serius bagus, sedangkan fiksi populer buruk. Namun, dari pengalaman membaca saya, fiksi populer juga terbagi ke dalam dua kategori, yaitu bagus/lumayan & yang buruk sekali. Dua kategori tersebut tak memiliki korelasi yang selaras dengan pandangan bahwa fiksi populer selalu laku. Banyak pula fiksi populer yang menurut saya buruk, tapi penjualannya baik, karena nama si penulis sudah terkenal atau memiliki basis fans yang banyak. Fiksi populer biasanya memiliki kesamaan formula. Misal, jika pada sebelumnya sebuah novel populer yang berkisah tentang anak SMA tampan+romantis+bad boy+anggota geng motor, laris di pasaran, maka formula demikian atau yang mirip akan ditiru oleh penulis fiksi populer setelah.
Karena fiksi populer mengedepankan fokus utama pada plot (plot-driven), memang benar bahwa cerita, plot, dan konfliknya sangat stereotip. Yang jika diganti dengan nama tokoh lain sama saja. Contohnya fiksi populer islami, biasanya tak jauh-jauh dari formula adanya pertentangan spiritual tokoh utama, adanya wacana hijrah. Baik hijrah dalam wacana spiritualisme atau hijrah dalam wacana perjalanan dari satu lokasi geografis ke geografis lainnya. Perpindahan geografis itu seringnya memicu perpindahan (hijrah) spitualisme. Contoh fiksi populer demikian ialah novel berjudul Assalamualaikum Beijing, Surga yang Tak Dirindukan, 99 Cahaya di Langit Eropa, Love Sparks in Korea, Negeri 5 Menara, Ayat-Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, dll.
Novel berjudul Hujan bergenre fiksi ilmiah, saya kategorikan ke dalam contoh fiksi populer yang buruk. Novel ini mengisahkan tentang Lail, seorang gadis yang berjuang mengatasi trauma setelah bencana letusan gunung api & gempa pada tahun 2042 merenggut orang tuanya. Di tengah dunia futuristik, Lail didampingi sahabatnya, Maryam, dan sosok Esok yang menolongnya. Kisah ini berfokus pada cinta, perpisahan, dan upaya menghapus kenangan menyakitkan. Kita bisa mengganti tahun, nama tokoh, jenis bencana, latar tempat, & takkan mengubah apa-apa yang berarti, karena berpatok pada plot-driven tadi. Saya membaca novel populer buruk itu karena dipaksa seorang dosen lewat tugas perkuliahan. Novel ini laris di pasaran karena penulisnya terkenal, Tere Liye.
Fiksi populer tak ubahnya sinetron-sinetron Indonesia, yang bisa kita tebak ke arah mana cerita berjalan & berakhir. Biasanya tak banyak kemungkinan yang bisa kita bayangkan. Sedangkan fiksi serius, membuat kita sulit menerka apa yang terjadi, jangankan akhiran, pertengahan saja, seringkali kita tidak tahu akan mengisahkan apa & terdapat konflik apa. Kesulitan tersebut karena gerak cerita berpatok pada character-driven. Perubahan batin si tokoh mempengaruhi jalan cerita.
Sedikit contoh fiksi serius yang digerakan oleh character-driven, yang dapat saya sebutkan ialah novel Cantik itu Luka yang bergerak karena perubahan batin pelacur bernama Dewi Ayu. Contoh lain yaitu, novel Lelaki Harimau yang berpusat pada pembunuhan brutal terhadap Anwar Sadat oleh Margio. Fokus cerita bukan pada siapa pelakunya, tetapi mengapa Margio melakukannya. Perubahan batin si Margio-lah yang menggerakkan cerita.
Lalu, seperti apakah fiksi populer yang saya idealkan, yang lebih bagus dari fiksi populer yang buruk? Salah satu contoh yang bisa saya ajukan, novel The Little Paris Bookshop atau Toko Buku Kecil di Paris versi terjemahannya karya Nina George. Novel ini dalam versi Indonesia dialih bahasa oleh Utti Setiawati, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2017, setebal 440 halaman. Novel ini bergenre fiksi romansa.
The Little Paris Bookshop mengisahkan seorang Jean Perdu, yang menyebut dirinya sebagai apoteker sastra. Dari toko bukunya yang terapung di atas tongkang di Sungai Seine, ia meresepkan novel untuk mengatasi kesulitan hidup. Dengan intuisinya yang tajam untuk menemukan buku yang tepat bagi seorang pembaca. Perdu menyembuhkan hati dan jiwa yang patah orang lain lewat buku yang ia rekomendasikan. Satu-satunya orang yang tampaknya tidak dapat ia sembuhkan melalui sastra adalah dirinya sendiri; ia masih dihantui oleh patah hati setelah kekasihnya pergi. Kekasihnya hanya meninggalkannya dengan sebuah surat, yang belum pernah & tak berani ia buka.
Setelah Perdu akhirnya tergoda untuk membaca surat itu, ia mengangkat jangkar dan berangkat dalam sebuah misi ke Prancis Selatan, berharap untuk berdamai dengan kehilangannya dan menemukan akhir dari cerita tersebut. Ditemani oleh seorang penulis laris yang mengalami kebuntuan kreatif dan seorang koki Italia yang patah hati, Perdu melakukan perjalanan menyusuri sungai-sungai di negara itu, menyebarkan kebijaksanaan dan buku-bukunya, menunjukkan bahwa dunia sastra dapat membawa jiwa manusia dalam perjalanan untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
Saya mengkategorikan novel ini sebagai fiksi populer. Adapun ciri-cirinya yang saya tangkap dari novel ini, yaitu temanya umum, bertema romansa. Novel ini bertitik pijak pada aksi Jean Perdu & peristiwa-peristiwa eksternal yang dialaminya. Salah satu peristiwa eksternal itu ialah misi pergi berkelana. Misi bepergian ini sangat identik fiksi populer, jika dalam novel populer islami hal tersebut juga terjadi, dengan sebutan hijrah. Karakter sekunder penting dalam novel ini ialah Manon, mantan kekasih Perdu di masa muda yang meninggalkannya bersama sepucuk surat. Jika karakter Manon diganti, maka cerita akan tetap berjalan sebagaimana mestinya, karena plot (plot-driven) yang dominan.
Lalu, apa yang mendukung novel ini dikategorikan fiksi populer yang baik? Meskipun menggunakan kendaraan tema romansa, percintaan yang klise, pekerjaan & karakter tokoh utama novel ini tidak klise. Seorang tua yang belum bisa move on dari cinta masa muda & bekerja sebagai apoteker sastra. Saya jarang sekali menemukan tokoh yang demikian di fiksi populer. Fiksi populer biasanya diisi tokoh klise seorang pelajar/mahasiswa, ibu-ibu rumah tangga, pemimpin perusahaan kaya & tampan yang menyamar, atau tokoh menengah-bawah yang pontang panting mengejar cita-cita. Ciri terakhir misalnya novel populer Laskar Pelangi, Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, atau Negeri 5 Menara buah karya Ahmad Fuadi.
Novel ini memang berjalan dengan plot dominan (plot-driven), tetapi perubahan batin tokoh (character-driven), si Jean Perdu juga berdampak pada jalan cerita. Perasaannya yang belum bisa sembuh dari patah hati berdampak pada upayanya dengan berlayar menyusur sungai. Selain itu, novel ini masuk dalam kategori julukan page-turners yang berhasil membuat saya mampu menyelesaikan 400 lebih halaman dengan mudah & tanpa beban bosan apaan sih ini. Beban bosan yang saya rasakan ketika membaca Hujan-nya Tere Liye & tak sanggup melanjutkan setelah 15 halaman.